kirakira 3 minggu lalu, gue ke bengkel motor, dengan keluhan, electric starternya sering contact sendiri kalo lagi dipake [setelah] hujan dan/atau setelah di cuci steam.
kata montirnya, yang bermasalah adalah dinamo starternya, gue iya in aja untuk diganti.
berhubung lagi di bengkel, sekalian gue nanyain apakah rantai nya perlu diganti, mengingat udah lebih 2 tahunan umurnya, apalagi gue merasa agak gak nyaman kadang kadang kaya' selip ban.
kata montirnya, engga usah diganti, nanti digeser aja bannya, gue iyain aja.
beberapa hari setelah itu. hujan hujanan lah gue pulang. dan korsleting di starter tetep terjadi.
biasanya, kalo ketika terjadi korslet, gue pencet pencet starter nya, dan biasanya disconnect [walaunpun untuk sesaat, karena beberapa meter kemudian pasti korslet lagi]. tapi kali ini biar gue pencetpencet, tetep aja korslet.
akhirnya gue putusin minggir, untuk kemudian matiin motor [dan kemudian gue pukul pukul area starter, saking sebelnya, karena gue yakin gak bakalan juga bisa mecahin masalah itu dengan mukulmukul]
setelah diyakinin sama bapakbapak di deket gue berenti, bahwa gak bakalan kebakar motor gue, paling aki nya aja yang abis. akhirnya gue terusin jalan.
lalu minggu kemarin gue ke bengkel lagi, bengkel yang lain.
gue utarain soal korslet itu, trus montirnya bilang, itu starter nya yang masalah, tapi mesti ganti yang orisinal, supaya masalahnya ga timbul lagi.
berhubung tu bengkel ga ada kehabisan starter orisinal, dia menyarankan gue beli dulu, trus balik lagi.
pergilah gue nyari nyari, berhubung itu hari minggu, gak ada bengkel resmi yang buka. ketemu toko onderdil yang ngejual seharga yang diluar bayangan gue
.
ya sudah ga jadi beli, pas mau pulang, lewat sebuah bengkel lain lagi, dan entah kenapa gue berenti aja. lalu gue utarakan lagi permasalah gue,
kembali montir ini menyatakan hal yang sama, bahwa starter nya harus diganti. dan dia punya stok yang 'katanya' orisinal, soalnya harganya jauh dari yang ditawarin tadi. gue iyain untuk diganti.
lalu gue kembali nanya soal rantai, terus dibilang, bahwa rantai itu sudah waktunya diganti. halah!
itu motor, bagaimana dengan tubuh manusia?,
ada keluhan, pergi ke dokter satu, didiagnosanya penyakit anu, ditangani secara anu, gak sembuh.
kalo nyoba pergi ke dokter dua, didiagnosanya penyakit itu, ditangani secara itu, kaya'nya sembuh.
tapi gak lama kambuh.
akhirnya, mungkin baru pas di dokter lima puluh, dengan diagnosa blbabla, baru sembuh.
takutnya belum sampe dokter lima puluh, sudah akut, dan tidak tertolong. bagaimana ya?.
dengan jargon, dokter/manusia berusaha dan Tuhan lah yang menentukan, kadang kadang jadi semuanya jadi permisif.
terus juga, kalo misalnya disamain dengan motor, bahwa cuma dateng ke bengkel kalo lagi ada masalah. dan ketika diperiksa montir, walhasil penyakit tu motor bukan cuma satu, tapi lima atau bahkan sampe sepuluh masalah. yang ada jomplang deh.
nah kalo manusia, baru dateng ke dokter hanya pas sakit doang?, dan setelah didiagnosa ternyata ada lebih dari dua penyakit yang mengakibatkan komplikasi, gimana ga jomplang?, yang ada secara kejiwaan jadi ngedrop sehingga fisik juga melorot.
untuk melakukan pemeriksaan regular, gue rasa orang kaya' gue sih males juga ya? :),
"ngga sakit koq ke dokter", gitu paling pikirannya.
mau regular full medical check-up, kantong ga ngejar :D, lagian jarang ada asuransi [kantor] yang menerima medical check-up claim.
seberapa profesional, elo atau manajemen perusahan tempat loe bekerja bertindak?
tentu saja gue gak ngomongin bahwa elo dateng soal ke kantor terus kemudian buka e-mail [baca: milis], bales bales e-mail, forward junk mail [misalnya nge-e-mail-in PDF-an quotes chinca lawra], atau bikin postingan [seperti yang gue lakukan saat ini] dan kemudian baru kerja jam 11.
engga.
gue pengen tau tindakan apa yang loe lakukan ke perusahaan tempat elo bekerja dan / atau sebaliknya, ketika elo menyatakan bahwa elo berniat tidak tergabung lagi dengan perusahaan, alias resign.
untuk resign, gampang gampang susah. tergantung situasi perusahaan, posisi elo, dan hal hal non-teknis
dibeberapa perusahaan yang ga punya regulasi [yang jelas], gue temui kadang kadang lebih gampang untuk resign dari pada diperusahaan yang [sok] punya aturan perusahaan.
beberapa perusahaan menekankan one month notice, ada pulak yang menekankan harus ada pengganti [selevel], ada yang ga peduli, ada yang nahan nahan. setiap perusahaan mempunyai kepentingan yang berbeda terhadap karyawannya
ketika pertama kali gue mengajukan resign -- di tempat gue pertama kali kerja -- yang ada, guenya degdegan, maju mundur, intap intip si boss situasi mood nya gimana
terus ketika ngadep, akhirnya keringet dingin kaya' ngucur, walopun kenyataanya engga,.
gue ajukan bahwa gue mau mengundurkan diri untuk alasan kuliah lagi di bandung.
boss gue, ternyata ga ngijinin begitu aja. gue dikasih kesempatan untuk bekerja remote dari bandung untuk tiap sabtu/minggu gue singkronisasi dengan kantor di jakarta
"ya udah kalo ga boleh resign," pikir gue, "yang penting gue bisa kuliah."
ternyata 2 atau 3 bulan bolak balik jakarta-bandung, kerjaan jadi kececer, komunikasi gak lancar soalnya henpon belum jaman, masih pager dan pulak tempat kost gue gak boleh terima telpon, akhirnya karena ga puas dengan hasil kerja gue, bisa dibilang gue dipecat. :D.
pekerjaan kedua gue bisa dibilang bukan pegawai yang tetap. gue bekerja kalo 'dipanggil' aja.
dan gue juga gak inget apakah gue resign, atau apakah gue engga' 'dipanggil panggil' lagi :D
pekerjaan ketiga gue, di sebuah perusahaan berbentuk CV, isinya cuma 4 orang.
gue resign dengan berat hati, pertama karena udah lumayan enak sama 3 orang lainnya dalam hal bekerja
gue dikasih kemudahan jam kerja, dan boss-bersama nya [2 dari 3 orang itu berposisi sebagai pimpinan slash marketing] juga lumayan royal. gue resign tanpa one month notice -- hanya dalam hitungan 2 hari doang.
soalnya perusahan berikutnya hanya ngasi waktu gue seminggu untuk pindah. yang dikemudian hari gue tau ini adalah trik menyebalkan yang dipake untuk maksa orang.
dengan rela boss gue tersebut melepas gue. dan yang bikin gue guilty dikemudian haripun gue ga bisa dateng ke acara pernikahan salah satu dari boss gue itu
perusahaan berikutnya, gue resign karena -- kontrak gue gak diperpanjang, kecuali gue di sub-kontrakkan ke tempat lain -- option yang akhirnya gue ambil. dan setelah 3 bulanan di sub-kontrakkan tiba tiba ada tawaran untuk menjadi salah satu start-up wannabe PT.
ketika gue ajukan resign, gue diimingi dengan tambahan gaji dan menjadi pegawai tetap, tapi gue tolak karena gue udah ngiler jadi start-up
ternyata start-up hanya satu cara memikat orang disertai pulak yang pada kenyataannya gue gak bisa keep-up dengan harapan boss
itulah dimana gue mengajukan resign dalam itungan 0 hari. gue bilang gue resign dan besok udah gak masuk.
udah gitu gue berharap mendapat gaji 1/2 karena gue berenti di tengah bulan, dan tidak terjadi.
ketika gue ngontak bagian yang sering ngasi gaji, dipastikan boss gue itu sama sekali ga berminat ngebayar gaji terakhir gue, walopun setengah.
pengen rasanya ngelabrak ke kantor itu, tapi gue gak berani, selain takut ditangkep polisi kalo gue macem macem misalnya mecahin kaca kantor pake korsi.
perusahaan berikutnya, adalah sebuah perusahaan start-up, tapi kali ini gue sama sekali ga ambil bagian, gue cuma pegawai.
ketika gue resign, boss nya bilang, "ya kaya'nya emang tinggal waktu untuk kamu resign son"
trus dalam waktu 2 1/2 minggu gue udah berpindah kerja
dari sekian banyak, emang cuma satu kali gue mengalami hal buruk diperlakukan ex-boss setelah gue keluar dari perusahaannya. tapi itu membekas banget sama gue, sehingga kalopun misalnya gue ketemu sama tu boss pengen rasanya mamerin bahwa gue ga salah keluar dari kantor dia.
dan dari sekian banyak, gue gak pernah one month notice, semua serba dadakdadakan karena tekanan (baca: trik) dari perusahaan berikut yang meminta untuk cepat bergabung.
dan dari sekian banyak, cuma satu kali yang nahan supaya gue ga resign
Bangun tidur langsung ngambil ponsel, ngga nyadar kepencet hapus semua kontak. Yaiks! Semua kontak gue ilang dlm sekejap. Hiks...hiks...
begitu lah yang diposting annmolly di kronologger.
hal tersebut pernah kejadian sama gusnar, ketika itu gue masih di bandung.
gusnar baru bangun tidur, terus langsung duduk di depan komputer, trus ceklak ceklik mouse, dan whalla! harddisknya terformat. bayangkan susahnya nasib karena di dalam harddisk nya tersimpan thesis yang sedang dikerjakan adeknya, skripsinya dia, dan file file penting lainnya.
tampaknya sangat berbahaya bagi seseorang yang baru bangun tidur untuk melakukan aktifitas langsung. dalam contoh terkait adalah dengan perangkat elektronik. tapi gue rasa gak menutup kemungkinan untuk hal hal lain.
yang jadi pertanyaan gue adalah, banyak pekerjaan yang terkait dengan orang yang bangun tidur, terutama agak mendadak [di]bangun[kan], seperti penjaga malam, satpam, supir, dokter jaga [ugd]. apakah mereka mempunyai kelemahan tersebut ya?.
jika iya, bagaimana nasib client/customer/majikan/pasien yang di handle sesaat setelah dia bangun?
karena gue gak dapet data/laporan tentang hal tersebut, jadi gue simpulkan aja, mereka tampaknya baik baik saja.
nah kalo gitu, accident yang terjadi pada saat aktifitas yang dilakukan seseoran sesaat setelah dia bangun itu hanya terjadi pada segelintir orang, dan tampaknya intermitent.
dalam sepanjang ingetan gue, kaya'nya gue belum pernah melakukan hal berbahaya setelah sesaat gue bangun, selain gue pernah kebingungan apakah ini bangun pagi apa bangun sore? :D